Pendukung ulama garis keras Indonesia mengadakan rapat umum untuk menekan polisi atas baku tembak mematikan

JAKARTA – Pendukung ulama garis keras Indonesia Rizieq Shihab melakukan protes di luar markas polisi di Kabupaten Sampang, Jawa Timur, pada hari Rabu (16 Desember) untuk menuntut keadilan bagi enam anggota mereka yang tewas dalam baku tembak dengan polisi dan untuk pembebasan pemimpin mereka.

Rizieq, yang memimpin Front Pembela Islam (FPI) yang kontroversial, ditahan sejak Sabtu di markas polisi daerah Metro Jaya di luar Jakarta. Dia sedang diselidiki karena melanggar pembatasan virus corona dengan mengadakan acara yang menarik ribuan pengikut di kota.

Di Sampang pada hari Rabu, beberapa lusin pengunjuk rasa berkumpul di luar kantor polisi untuk meneriakkan slogan-slogan dan mendengarkan pidato oleh penyelenggara rapat umum, foto-foto rapat umum menunjukkan.

Banyak yang tanpa masker dan tidak mematuhi jarak sosial, seperti yang disarankan oleh pemerintah di tengah pandemi yang telah mencatat hampir 530.000 kasus di Indonesia dan menewaskan lebih dari 19.000 orang.

“Kami berada di kantor polisi Sampang untuk menuntut keadilan, bagi polisi untuk menyelesaikan penyelidikan atas pembunuhan kader FPI di Jakarta,” kata seorang penyelenggara unjuk rasa, Mahrus, seperti dikutip oleh situs berita lokal FaktualNews.co.

Para pengunjuk rasa juga menuntut pembebasan segera Rizieq, katanya.

Pekan lalu, polisi menembak mati enam pengikutnya dalam baku tembak di jalan raya ketika para pendukung menemani dalam konvoi kendaraan ke sebuah acara. Polisi mengatakan mereka yang tewas membawa senjata termasuk pistol, yang telah dibantah oleh FPI.

Media lokal telah melaporkan bahwa Rizieq, 55, telah didakwa dengan menghalangi penegakan hukum dan hasutan tindakan kriminal, Reuters melaporkan.

Sebelum penangkapannya, pengkhotbah itu telah dipanggil oleh polisi beberapa kali untuk memberikan pernyataan karena mengizinkan ribuan pendukungnya berkumpul di bandara Jakarta dan dalam sebuah pertemuan di rumahnya bulan lalu, segera setelah ia kembali dari pengasingan tiga tahun di Arab Saudi. Tetapi dia berhasil menghindari polisi sampai penangkapannya pada hari Sabtu.

Meskipun FPI menganjurkan nilai-nilai Islam, para kritikus menyebutnya sebagai dengan kecenderungan memeras biaya perlindungan dari bar dan klub malam.

Seorang pejabat senior pemerintah pekan ini mengatakan bahwa FPI telah merekrut mantan anggota kelompok garis keras Muslim Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang dibubarkan dan melakukan pelatihan seperti tentara untuk rekrutan muda.

HTI, yang menyerukan hukum Islam yang ketat di Indonesia dan ingin menyatukan semua Muslim menjadi kekhalifahan, dibubarkan pada pertengahan 2017 dengan alasan bertentangan dengan ideologi negara Pancasila, prinsip-prinsip nasional pendiri yang mempromosikan pluralisme, toleransi dan demokrasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *